|
Ketika Maut Menjelang
"Allahu akbar...Allahu akbar..." terdengar dering telepon genggamku yang memakai lagu Selamat Hari Lebaran yang dinyanyikan grup band UNGU (maklum masih dalam nuansa lebaran). Seketika tanganku sigap merogoh ke saku dan mengeluarkan handphone Nokia 9500 yang sudah lusuh.
Ups, ternyata adik iparku menelepon. "A' tadi telpon mpit susah. Aa lagi di jalan ya? Mau ngasih tauk kalo Pak Memed sekarang sedang sakaratul maut. Kasih tauk Mpit ya, ke POJ nda?" tuturnya terbata-bata.
Sejenak aku terperangah. Walaupun aku sudah bisa menerka-nerka kalau usia tetangga mertuaku itu tidak lama lagi karena sakitnya yang sudah parah, tetap saja rasa kaget itu menyeruak. Apalagi beberapa hari terakhir ini, setiap aku dan keluargaku silaturahim ke rumah mertua yang hanya berjarak 10 menitan, tampak rumah yang persis behadap-hadapan itu selalu ramai dikunjungi kerabatnya.
Sebenarnya hal ini juga pernah terjadi pada ibuku. Sakit yang menderanya membuatnya tidak berdaya. Masih hangat dalam ingatanku, lima hari setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ibuku meninggal dunia di tanah kelahirannya. Begitu pun dengan ayahku, dua tahun sebelum ibuku Ia berpulang. (Robbighfirli waliwalidaya warhamhuma kama robbayani soghiro).
Banyak cara makhluk menghadap Robbnya. Sikap yang berbeda pula ditunjukkan dalam menghadapinya. Ada segolongan manusia yang merindukan segera bertemu dengan Tuhannya, namun banyak juga yang setengah mati takut dan menghindarinya.
Menghadapi sakaratul maut Ibarat siswa yang akan menghadapi ujian. Siswa yang cerdas tentu mempersiapkan jauh-jauh hari, sehingga pada prakteknya dia menjalani ujian dengan tenang. Berbeda dengan siswa yang malas, dia baru belajar menjelang hari H, atau malahan tidak sama sekali. Apa yang terjadi? keduanya menghadapi ujian dengan perasaan yang berbeda. Tentunya dengan hasil akhir yang berbeda pula.
Rasulullah pun pernah mengingatkan sahabatnya akan sebuah penyakit yang sering menghinggapi manusia. Penyakit itu bernama Wahn. Kalau dalam teks bahasa nabi yang disebut wahn adalah hubbud dunya wakaroiyatul maut, terlalu mencintai dunia dan takut mati.
Ya, sangat masuk akal. Ketika kita menyukai sesuatu biasanya kita cenderung takut akan kehilangannya. Agama mengajarkan unsur keseimbangan (tawazun), raihlah dunia maupun akhirat. Makanya orang-orang dahulu (ga tauk nih orang sekarang....) begitu mendawamkan doa sapu jagat. Robbana atina fiddunya hasanah, wafilakhiroti hasanah, waqina adzab bannar. inti doa itu meminta kebaikan di dunia dan akherat dan diselamatkan dari azab neraka.
Ya....ibarat kereta sapu jagat yang biasa dipakai mudik lebaran yang mengangkut banyak mudikers (walaupun duduk lesehan), doa ini juga pakai sistem borongan (upss...kayak tukang bangunan saja ada istilah borongan sama harian). Kenyataannya doa itu menjadi senjatanya orang orang yang beriman.
ini. Semenjak lebaran menjelang, rasanya berita duka cita kerap menghampiri ponselku. Beberapa karyawan di tempatku bekerja keluarganya meninggal, entah itu anaknya, mertua atau istri. Tidak sengaja juga aku lihat infotainment di TV yang dipasang di bis, saat itu ditayangkan artis Rita Sugiarto yang kehilangan anaknya yang baru berusia 23 tahun. Hmm...ditambah lagi korban berjatuhan menimpa mudikers akibat kecelakaan. Ya...kabar pagi ini juga semakin menambah deretan panjang berita duka cita di ponselku.
"Uki...uki....cawang...." teriak kernet bis mengingatkan penumpang. Alhamdulillah sampai juga di Cawang dengan selamat. Tinggal melanjutkan perjalanan menuju Pancoran.
Sadang-Jakarta 09.10.08
|