Entry: Kolom Abah Friday, October 10, 2008



Ketika Maut Menjelang

"Allahu akbar...Allahu akbar..." terdengar dering telepon genggamku yang
memakai lagu Selamat Hari Lebaran yang dinyanyikan grup band UNGU (maklum
masih dalam nuansa lebaran). Seketika tanganku sigap merogoh ke saku dan
mengeluarkan handphone Nokia 9500 yang sudah lusuh.

Ups, ternyata adik iparku menelepon.
"A' tadi telpon mpit susah. Aa lagi di jalan ya? Mau ngasih tauk kalo Pak
Memed sekarang sedang sakaratul maut. Kasih tauk Mpit ya, ke POJ nda?"
tuturnya terbata-bata.

Sejenak aku terperangah.  Walaupun aku sudah bisa menerka-nerka kalau usia
tetangga mertuaku itu tidak lama lagi karena sakitnya yang sudah parah,
tetap saja rasa kaget itu menyeruak. Apalagi beberapa hari terakhir ini,
setiap aku dan keluargaku silaturahim ke rumah mertua yang hanya berjarak
10 menitan, tampak rumah yang persis behadap-hadapan itu selalu ramai
dikunjungi kerabatnya.

Sebenarnya hal ini juga pernah terjadi pada ibuku.  Sakit yang menderanya
membuatnya tidak berdaya.  Masih hangat dalam ingatanku, lima hari setelah
diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ibuku meninggal dunia di tanah
kelahirannya.  Begitu pun dengan ayahku, dua tahun sebelum ibuku Ia
berpulang.  (Robbighfirli waliwalidaya warhamhuma kama robbayani soghiro).

Banyak cara makhluk menghadap Robbnya.  Sikap yang berbeda pula
ditunjukkan dalam menghadapinya.  Ada segolongan manusia yang merindukan
segera bertemu dengan Tuhannya, namun banyak juga yang setengah mati takut
dan menghindarinya.

Menghadapi sakaratul maut Ibarat siswa yang akan menghadapi ujian.  Siswa
yang cerdas tentu mempersiapkan jauh-jauh hari, sehingga pada prakteknya
dia menjalani ujian dengan tenang. Berbeda dengan siswa yang malas, dia
baru belajar menjelang hari H, atau malahan tidak sama sekali. Apa yang
terjadi? keduanya menghadapi ujian dengan perasaan yang berbeda.  Tentunya
dengan hasil akhir yang berbeda pula.

Rasulullah pun pernah mengingatkan sahabatnya akan sebuah penyakit yang
sering menghinggapi manusia. Penyakit itu bernama Wahn. Kalau dalam teks
bahasa nabi yang disebut wahn adalah hubbud dunya wakaroiyatul maut,
terlalu mencintai dunia dan takut mati.

Ya, sangat masuk akal.  Ketika kita menyukai sesuatu biasanya kita
cenderung takut akan kehilangannya.  Agama mengajarkan unsur keseimbangan
(tawazun), raihlah dunia maupun akhirat.  Makanya orang-orang dahulu (ga
tauk nih orang sekarang....) begitu mendawamkan doa sapu jagat. Robbana
atina fiddunya hasanah, wafilakhiroti hasanah, waqina adzab bannar.  inti
doa itu meminta kebaikan di dunia dan akherat dan diselamatkan dari azab
neraka.

Ya....ibarat kereta sapu jagat yang biasa dipakai mudik lebaran yang
mengangkut banyak mudikers (walaupun duduk lesehan), doa ini juga pakai
sistem borongan (upss...kayak tukang bangunan saja ada istilah borongan
sama harian).  Kenyataannya doa itu menjadi senjatanya orang orang yang
beriman.

 ini.  Semenjak lebaran menjelang, rasanya berita duka cita
kerap menghampiri ponselku.  Beberapa karyawan di tempatku bekerja
keluarganya meninggal, entah itu anaknya, mertua atau istri.  Tidak
sengaja juga aku lihat infotainment di TV yang dipasang di bis, saat itu
ditayangkan artis Rita Sugiarto yang kehilangan anaknya yang baru berusia
23 tahun. Hmm...ditambah lagi korban berjatuhan menimpa mudikers akibat
kecelakaan.  Ya...kabar pagi ini juga semakin menambah deretan panjang
berita duka cita di ponselku.

"Uki...uki....cawang...." teriak kernet bis mengingatkan penumpang.
Alhamdulillah sampai juga di Cawang dengan selamat.  Tinggal melanjutkan
perjalanan menuju Pancoran.

Sadang-Jakarta
09.10.08

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments