|
Ketika Keteladanan Itu Tiada "Abah, kenapa ya sekarang bangsa ini kelihatannya carut marut?," tanya istriku malam itu. "Kok rasanya pemimpin kita banyak ga diturut sama rakyatnya, ya?", lanjutnya lagi. Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Keningku sedikit berkerut. Namun sejurus kemudian aku menjawab. "Mi, mungkin pemimpin kita gagal memberikan teladan kepada rakyatnya. Apa yang dikatakannya tidak sinkron dengan apa yang diperbuatnya. Yaa...seperti bilang berpihak kepada rakyat, tapi kelakuan jauh dari mementingkan rakyat. Makanya rakyat emoh diberi janji-janji surga lagi, " aku coba menjelaskan. Obrolan tersebut mengantarkanku pada buku yang sedang kubaca beberapa hari ini. Judul buku itu 25 Kesalahan Dalam Mendidik Anak karya Rasyid Dimas yang diterjemahkan oleh Ust. Tate Komarudin. Dalam buku tersebut disebutkan bahwa keluarga menjadi tempat belajar pertama anak. Apa yang dicontohkan oleh orangtua akan dominan dalam perkembangan perilaku sang anak. Bagaimana mungkin mengajarkan anak nilai kejujuran tatkala orang tuanya sendiri memberikan contoh yang bertolak belakang. Sering kita dengar orangtua menasihati anaknya untuk tidak berbohong. Namun pada saat yang sama dia menyuruh mengatakan ayah tidak di rumah pada saat ada tamu datang. Begitupun dengan harapan kita untuk memiliki anak yang sholeh/sholehah. Orangtuanya terlebih dahulu untuk belajar sholeh/sholehah. Sama halnya berharap anak menjadi hafidz Quran, maka orang tuanya pun harus lekat dengan Al Quran itu sendiri. Sungguh sebejat apapun orang tua dalam hati kecilnya berharap anaknya lebih baik darinya. "Hmm...gimana muroja'ahnya, sudah belum hari ini?" aku mengingatkan istriku. "Alhamdulillah...terus dicicil. Kan kata Abah kita tidak hanya butuh semangat yang menggebu, tapi juga semangat yang kontinyu," jawabnya sambil menuang teh hangat ke gelas. "Alhamdulillah semoga kita istiqomah dan Allah menjadikan anak keturunan kita orang-orang yang mencintai Alquran," ujarku. "Amin. Bantu umi dan cha dengan keteladanan yang istiqomah," pintanya. "InsyaAllah...ketika kita menikah maka saling menguatkan satu sama lain menjadi kuncinya," imbuhku. Redup malam membawa kami ke peraduan. Senyap menyongsong esok dengan penuh warna. Sadang-Jakarta 10.10.08 |
| Leave a Comment: |