AL BINA di 25 Ramadhan
Malam tidak terlalu pekat menyelimuti seputar Komplek Senayan. Temaram lampu menyinari jalanan, sedikit remang-remang. Bulan sabit tanggal dua puluh lima ramadhan menyembul dibalik awan tipis kota Jakarta. Seiring hembusan angin dingin menyapa malam.
Namun, suasana hangat tetap menyelimuti seisi bangunan cantik itu. Rumah Allah dengan nama Al Bina' menyemburatkan rona kemesraan malam. Kala segenap hamba bermunajat disisa-sisa ramadhan. Rintih penuh hiba mengharap ampunan-Nya dalam syahdu muhasabah diri. Memohon ampunan dari Maha Penerima Taubat.
Di rumah suci, malam itu, segenap pengharap ampunan Allah diajak menapaki kembali jejak hidup yang telah dilewati. Hakikat terlahir ke dunia dengan misi sucinya. Betapa nampak jelas ke-Maha Besaran Allah Robbul Alamin dalam penciptaan manusia dan alam semesta. Sehingga tak layak bagi insan untuk sombong yang merupakan pakaian Allah.
Di sudut malam itu juga, tercekat dalam kekagetan yang tak perlu. Betapa selama ini lalai untuk mengingat akhir dari perjalanan hidup. Sejatinya, kesadaran akan fenomena kematian tidak berhenti ds itu saja. Sebenarnya, kematian merupakan masa transisi untuk mengarungi fase selanjutnya.
Anehnya, manusia begitu ringkih untuk mengingat kematian dan mempersiapkannya. Padahal, perumpamaan manusia yang cerdik adalah manusia yang mengingat mati dan mempersiapkan bekalnya. Apakah ini yang dikatakan oleh Rasulullah SAW, bahwa manusia akan dihinggapi oleh penyakit wahn. Hubbud dun'ya wakaro'iyatul maut, terlalu cinta kepada dunia dan takut akan kematian.
Ya, malam itu kembali tersadarkan untuk menghisab diri sendiri sebelum dihisab oleh Rabb yang Maha Adil. Mengira-ngira kembali berat timbangan amal kebaikan dan amal keburukan.
Rasanya, malam itu terlalu pendek. Qiyamul lail yang diteggakkan terasa begitu ringan setelah diberi kapsul muhasabah. Mungkin inilah karakter manusia, yang selalu harus sering diingatkan, karena manusia makhluk yang diberi sifat pelupa. Layaknya charger yang akan memberikan energi baru, itulah muhasabah. Sebagaimana pun iman, yazid wa yankus, kadang bertambah kadang Berkurang. Maka menghisab diri menjadi sebuah rutinitas harian untuk terus menjaga kesadaran sebagai seorang hamba dengan kewajiban yang diembannya.
Jejak malam masih terlihat. Di serambi rumah suci itu, kami bersahur mengharap berkah dalam balutan dingin ibu kota. Tapi sungguh, tidak terasa seperti Jakarta. Rindang pepohonan di sekitar masjid mengingatkan suatu tempat di Puncak atau sejenisnya. Sejengkal tanah hijau yang masih tersisa di pusat kota dalam deru pembangunan yang kadang tak tahu arah.
Bulan sabit itu telah condong di ufuk barat. Begitu pun malam segera terenggut oleh mentari pagi. Sebuah akhir yang indah dalam balutan jama'ah subuh. Kami bergegas menuju rumah peradaban kami dengan menunggang motor karunia dari Allah. Menuju Bintaro, kami kembali.
Al Bina' Senayan, 25 ramadhan 1427 H
To Istriku, makasih ya telah mengajak ku ke Rumah Suci-Nya
Subhanallah, Team Rohis Garuda kreatif dalam meramu acara muhasabah