Your Ad Here

~ Selamat Datang di Pondok JJS, karena setiap masalah ada solusinya~ Image hosting by Photobucket





ASMAUL HUSNA
"Eh, isi dunk...!"
"Cape Nech...jalan teyus!"



HARUS NGISI LOH...!
   

<< May 2012 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



 
Monday, March 12, 2012
Hikmah
Hikmah:
Merendahlah, engkau kan seperti bintang gemintang. Berkilau dipandang orang di atas riak air dan sang bintang nun jauh tinggi. Janganlah seperti asap, yang mengangkat diri tinggi di langit. Padahal dirinya rendah-hina.(KH Rahmat Abdullah)
Posted at 10:20 am by hijrah1307
Komentar euy  

 
Sunday, May 08, 2011
Menyengsarakan Wakil Rakyat
“Koran….,  koran……,”  teriak Sugeng, loper koran langganan Zulvy di depan rumah.

Zulvy bergegas membuka pintu pagar dan menghampiri tukang koran bersepeda itu.

“Apa berita yang rame hari ini, Mas?” tanya Zulvy.

“Mau apa dulu nih, artis, olahraga apa politik?” tanya Sugeng sambil merapikan koran bawaannya.

“Semuanya dech,” jawab Zulvy.

“Ya semuanya ada yang ramenya.  Anang lagi berseteru dengan mantan pasangan duetnya.  Ada El clasico Madrid  vs Barca.  Kalau politik, lagi rame kunjungan dewan ke luar negeri,” papar Sugeng.

“Bukannya kalau kunjungan anggota dewan sih udah biasa tuh?” tanya Zulvy lagi.

“Ya, iya sih.  Tapi ya ramai juga denger anggota dewan gaptek, padahal punya staf ahli banyak,”  jawab Sugeng.

Wah, tukang koran zaman sekarang pada pinter-pinter, pikir Zulvy.  Mungkin dia setiap hari mengkhatamkan banyak koran sehingga hapal betul perkembangan bangsa ini.

“Gaptek bagaimana?”  Zulvy pura-pura tidak tahu.

“Masa,  ditanya alamat email jawabannya ngawur.  Mbok ya kalau tidak tahu ya belajar dan nggak usah sok tahu gituh loh,” ujar Sugeng dengan nada protes.

Apa yang diomongkan oleh Sugeng ini memang sedang ngetrend di dunia maya Indonesia seperti milist, twitter atau pun facebook, sekarang malah sudah menjadi konsumsi publik di media cetak maupun televisi.    Kunjungan salah satu komisi dewan ke negeri Kanguru menuai protes dari warga Indonesia yang ada di sana.  Sesi diskusi yang dilakukan di KBRI berakhir anti klimak.  Pertanyaan peserta tidak terjawab dengan memuaskan alias muter-muter dan mbulet.

Plesiran dengan judul studi banding ke luar negeri padahal sudah dihimbau untuk ditunda dan dievaluasi.  Ketua Dewan yang bicara, tapi apa lacur acara seperti ini terus saja terjadi.  Sekarang seperti main petak umpet antara anggota dewan dengan pemburu berita.

Sejujurnya fasilitas yang diperoleh oleh anggota dewan sudahlah banyak.  Namun sampai saat ini kinerjanya masih belum memuaskan dan cenderung untuk terus meminta ‘perbaikan’ kesejahteraan. Coba bandingkan dengan rakyat yang konon diwakilinya.

Zulvy jadi teringat dengan humor Gusdur tentang wakil rakyat.  Gusdur memberikan tips bagaimana cara untuk menyengsarakan wakil rakyat.

Katanya, pemerintah mengajukan rancangan peraturan baru kepada dewan.  Peraturannya simpel saja, semua jabatan wakil yang ada di Indonesia dihapuskan dan dinaikkan. Misalnya, wakil presiden menjadi presiden, wakil bupati menjadi bupati, begitu selanjutnya.  Terserah walaupun kemudian ada jabaran ganda.

Kemudian rancangan ini diajukan ke anggota dewan yang terhormat.  Alhasil mentah-mentah ditolak.  Ternyata walaupun jabatannya dinaikkan,  mereka tetap tidak mau.  Jelas saja, mereka tidak mau dari wakil rakyat menjadi rakyat.

Kenapa begitu? Ternyata jadi wakil rakyat itu enak. Namanya juga terhormat,  ya pasti banyak yang menghormati.  Coba jadi rakyat?

“Saya ambil koran olahraga saja, Mas.  Lagi mumet baca berita politik yang isinya kayak buntelan kentut,” Zulvy mengambil salah satu koran olahraga dari tas loper koran itu.

“Iya.  Saya sekarang jadi seneng baca berita selebriti.  Mereka sih kelihatan gak pernah pusing.  Sekalian biar segeran dikit lihat yang cantik-cantik,”   jawab Sugeng sambil ngekek ketawa.

Posted at 02:34 pm by hijrah1307
Komentar euy  

 
Friday, October 17, 2008
Kolom Abah

Ketika Keteladanan Itu Tiada

 

"Abah, kenapa ya sekarang bangsa ini kelihatannya carut marut?," tanya istriku malam itu. "Kok rasanya pemimpin kita banyak ga diturut sama rakyatnya, ya?", lanjutnya lagi.

 

Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Keningku sedikit berkerut.  Namun sejurus kemudian aku menjawab.

 

"Mi, mungkin pemimpin kita gagal memberikan teladan kepada rakyatnya.  Apa yang dikatakannya tidak sinkron dengan apa yang diperbuatnya.  Yaa...seperti bilang berpihak kepada rakyat, tapi kelakuan jauh dari mementingkan rakyat.  Makanya rakyat emoh diberi janji-janji surga lagi, " aku coba menjelaskan.

 

Obrolan tersebut mengantarkanku pada buku yang sedang kubaca beberapa hari ini.  Judul buku itu 25 Kesalahan Dalam Mendidik Anak karya Rasyid Dimas yang diterjemahkan oleh Ust. Tate Komarudin.

 

Dalam buku tersebut disebutkan bahwa keluarga menjadi tempat belajar pertama anak.  Apa yang dicontohkan oleh orangtua akan dominan dalam perkembangan perilaku sang anak.

 

Bagaimana mungkin mengajarkan anak nilai kejujuran tatkala orang tuanya sendiri memberikan contoh yang bertolak belakang.  Sering kita dengar orangtua menasihati anaknya untuk tidak berbohong.  Namun pada saat yang sama dia menyuruh mengatakan ayah tidak di rumah pada saat ada tamu datang.

 

Begitupun dengan harapan kita untuk memiliki anak yang sholeh/sholehah.  Orangtuanya terlebih dahulu untuk belajar sholeh/sholehah. Sama halnya berharap anak menjadi hafidz Quran, maka orang tuanya pun harus lekat dengan Al Quran itu sendiri.

 

Sungguh sebejat apapun orang tua dalam hati kecilnya berharap anaknya lebih baik darinya.

 

"Hmm...gimana muroja'ahnya, sudah belum hari ini?" aku mengingatkan istriku.

 

"Alhamdulillah...terus dicicil. Kan kata Abah kita tidak hanya butuh semangat yang menggebu, tapi juga semangat yang kontinyu," jawabnya sambil menuang teh hangat ke gelas.

 

"Alhamdulillah semoga kita istiqomah dan Allah menjadikan anak keturunan kita orang-orang yang mencintai Alquran," ujarku.

 

"Amin. Bantu umi dan cha dengan keteladanan yang istiqomah," pintanya.

 

"InsyaAllah...ketika kita menikah maka saling menguatkan satu sama lain menjadi kuncinya," imbuhku.

 

Redup malam membawa kami ke peraduan. Senyap menyongsong esok dengan penuh warna.

 

 

Sadang-Jakarta

10.10.08

Posted at 05:59 pm by hijrah1307
Komentar euy  

 
Wednesday, October 15, 2008
Kolom Abah

Berjalan di bawah purnama

 

terang benderang

langkah kaki di bawah semburat cahaya

selaju angan menembus batas

melanglang tingginya alam pikiran

 

purnama telah datang kembali

menyapa malam di terpa angin lembut

tenang dan syahdu

begitulah titah dalam takdirNya

 

menunggu kembali purnama datang

harap selalu kebaikan menyambangi

 

sadang jakarta

Posted at 05:58 pm by hijrah1307
Komentar euy  

 
Tuesday, October 14, 2008
Kolom Abah

Harapan

 

tidak akan pupus

dalam terjangan badai

kokoh terpancang

dalam kerasnya karang tekad

 

tidak sekedar mimpi

yang bergantung di awan hayalan

tapi ini nyata

sebuah keniscayaan

 

karena semuanya mungkin

karena semua dapat terengkuh

karena selalu ada kesempatan

untuk mewujudkan keinginan

 

 

sadang jakarta

Posted at 05:57 pm by hijrah1307
Komentar euy  

 
Monday, October 13, 2008
Kolom Abah

Istriku

 

Istriku...

Rona wajahmu merona merah tatkala tersipu

Di antara balutan kerudung ungu menghias wajah manismu

Seulas senyum tersungging

Di antara bibir kemerahan

 

Istriku...

Syukurku pada Rabb pencipta alam semesta

Menghadirkan engkau dalam hidupku

Menemani arungi bahtera kehidupan

Menunaikan titah risalah melalui nabiMu

 

Istriku...

Allran sungai kehidupan masih terurai panjang

Masih akan ada jeram ujian yang menghampiri

Tetaplah menjadi tegar

Bak batu karang kuat menantang

 

Istriku...

Temani aku dalam keramaian dan kesendiirian

Jadilah pelita penerang dalam keremangan dan kegelapan

Agar semuanya menjadi indah dan penuh warna

Karena engkau anugrah terindah dalam hidupku

 

Jakarta - Sadang

09.10.08

Posted at 05:54 pm by hijrah1307
Komentar euy  

 
Friday, October 10, 2008
Kolom Abah

Ketika Maut Menjelang

"Allahu akbar...Allahu akbar..." terdengar dering telepon genggamku yang
memakai lagu Selamat Hari Lebaran yang dinyanyikan grup band UNGU (maklum
masih dalam nuansa lebaran). Seketika tanganku sigap merogoh ke saku dan
mengeluarkan handphone Nokia 9500 yang sudah lusuh.

Ups, ternyata adik iparku menelepon.
"A' tadi telpon mpit susah. Aa lagi di jalan ya? Mau ngasih tauk kalo Pak
Memed sekarang sedang sakaratul maut. Kasih tauk Mpit ya, ke POJ nda?"
tuturnya terbata-bata.

Sejenak aku terperangah.  Walaupun aku sudah bisa menerka-nerka kalau usia
tetangga mertuaku itu tidak lama lagi karena sakitnya yang sudah parah,
tetap saja rasa kaget itu menyeruak. Apalagi beberapa hari terakhir ini,
setiap aku dan keluargaku silaturahim ke rumah mertua yang hanya berjarak
10 menitan, tampak rumah yang persis behadap-hadapan itu selalu ramai
dikunjungi kerabatnya.

Sebenarnya hal ini juga pernah terjadi pada ibuku.  Sakit yang menderanya
membuatnya tidak berdaya.  Masih hangat dalam ingatanku, lima hari setelah
diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ibuku meninggal dunia di tanah
kelahirannya.  Begitu pun dengan ayahku, dua tahun sebelum ibuku Ia
berpulang.  (Robbighfirli waliwalidaya warhamhuma kama robbayani soghiro).

Banyak cara makhluk menghadap Robbnya.  Sikap yang berbeda pula
ditunjukkan dalam menghadapinya.  Ada segolongan manusia yang merindukan
segera bertemu dengan Tuhannya, namun banyak juga yang setengah mati takut
dan menghindarinya.

Menghadapi sakaratul maut Ibarat siswa yang akan menghadapi ujian.  Siswa
yang cerdas tentu mempersiapkan jauh-jauh hari, sehingga pada prakteknya
dia menjalani ujian dengan tenang. Berbeda dengan siswa yang malas, dia
baru belajar menjelang hari H, atau malahan tidak sama sekali. Apa yang
terjadi? keduanya menghadapi ujian dengan perasaan yang berbeda.  Tentunya
dengan hasil akhir yang berbeda pula.

Rasulullah pun pernah mengingatkan sahabatnya akan sebuah penyakit yang
sering menghinggapi manusia. Penyakit itu bernama Wahn. Kalau dalam teks
bahasa nabi yang disebut wahn adalah hubbud dunya wakaroiyatul maut,
terlalu mencintai dunia dan takut mati.

Ya, sangat masuk akal.  Ketika kita menyukai sesuatu biasanya kita
cenderung takut akan kehilangannya.  Agama mengajarkan unsur keseimbangan
(tawazun), raihlah dunia maupun akhirat.  Makanya orang-orang dahulu (ga
tauk nih orang sekarang....) begitu mendawamkan doa sapu jagat. Robbana
atina fiddunya hasanah, wafilakhiroti hasanah, waqina adzab bannar.  inti
doa itu meminta kebaikan di dunia dan akherat dan diselamatkan dari azab
neraka.

Ya....ibarat kereta sapu jagat yang biasa dipakai mudik lebaran yang
mengangkut banyak mudikers (walaupun duduk lesehan), doa ini juga pakai
sistem borongan (upss...kayak tukang bangunan saja ada istilah borongan
sama harian).  Kenyataannya doa itu menjadi senjatanya orang orang yang
beriman.

 ini.  Semenjak lebaran menjelang, rasanya berita duka cita
kerap menghampiri ponselku.  Beberapa karyawan di tempatku bekerja
keluarganya meninggal, entah itu anaknya, mertua atau istri.  Tidak
sengaja juga aku lihat infotainment di TV yang dipasang di bis, saat itu
ditayangkan artis Rita Sugiarto yang kehilangan anaknya yang baru berusia
23 tahun. Hmm...ditambah lagi korban berjatuhan menimpa mudikers akibat
kecelakaan.  Ya...kabar pagi ini juga semakin menambah deretan panjang
berita duka cita di ponselku.

"Uki...uki....cawang...." teriak kernet bis mengingatkan penumpang.
Alhamdulillah sampai juga di Cawang dengan selamat.  Tinggal melanjutkan
perjalanan menuju Pancoran.

Sadang-Jakarta
09.10.08

Posted at 10:47 am by hijrah1307
Komentar euy  

Next Page