“Koran…., koran……,” teriak Sugeng, loper koran langganan Zulvy di depan rumah.
Zulvy bergegas membuka pintu pagar dan menghampiri tukang koran bersepeda itu.
“Apa berita yang rame hari ini, Mas?” tanya Zulvy.
“Mau apa dulu nih, artis, olahraga apa politik?” tanya Sugeng sambil merapikan koran bawaannya.
“Semuanya dech,” jawab Zulvy.
“Ya semuanya ada yang ramenya. Anang lagi berseteru dengan mantan pasangan duetnya. Ada El clasico Madrid vs Barca. Kalau politik, lagi rame kunjungan dewan ke luar negeri,” papar Sugeng.
“Bukannya kalau kunjungan anggota dewan sih udah biasa tuh?” tanya Zulvy lagi.
“Ya, iya sih. Tapi ya ramai juga denger anggota dewan gaptek, padahal punya staf ahli banyak,” jawab Sugeng.
Wah, tukang koran zaman sekarang pada pinter-pinter, pikir Zulvy. Mungkin dia setiap hari mengkhatamkan banyak koran sehingga hapal betul perkembangan bangsa ini.
“Gaptek bagaimana?” Zulvy pura-pura tidak tahu.
“Masa, ditanya alamat email jawabannya ngawur. Mbok ya kalau tidak tahu ya belajar dan nggak usah sok tahu gituh loh,” ujar Sugeng dengan nada protes.
Apa yang diomongkan oleh Sugeng ini memang sedang ngetrend di dunia maya Indonesia seperti milist, twitter atau pun facebook, sekarang malah sudah menjadi konsumsi publik di media cetak maupun televisi. Kunjungan salah satu komisi dewan ke negeri Kanguru menuai protes dari warga Indonesia yang ada di sana. Sesi diskusi yang dilakukan di KBRI berakhir anti klimak. Pertanyaan peserta tidak terjawab dengan memuaskan alias muter-muter dan mbulet.
Plesiran dengan judul studi banding ke luar negeri padahal sudah dihimbau untuk ditunda dan dievaluasi. Ketua Dewan yang bicara, tapi apa lacur acara seperti ini terus saja terjadi. Sekarang seperti main petak umpet antara anggota dewan dengan pemburu berita.
Sejujurnya fasilitas yang diperoleh oleh anggota dewan sudahlah banyak. Namun sampai saat ini kinerjanya masih belum memuaskan dan cenderung untuk terus meminta ‘perbaikan’ kesejahteraan. Coba bandingkan dengan rakyat yang konon diwakilinya.
Zulvy jadi teringat dengan humor Gusdur tentang wakil rakyat. Gusdur memberikan tips bagaimana cara untuk menyengsarakan wakil rakyat.
Katanya, pemerintah mengajukan rancangan peraturan baru kepada dewan. Peraturannya simpel saja, semua jabatan wakil yang ada di Indonesia dihapuskan dan dinaikkan. Misalnya, wakil presiden menjadi presiden, wakil bupati menjadi bupati, begitu selanjutnya. Terserah walaupun kemudian ada jabaran ganda.
Kemudian rancangan ini diajukan ke anggota dewan yang terhormat. Alhasil mentah-mentah ditolak. Ternyata walaupun jabatannya dinaikkan, mereka tetap tidak mau. Jelas saja, mereka tidak mau dari wakil rakyat menjadi rakyat.
Kenapa begitu? Ternyata jadi wakil rakyat itu enak. Namanya juga terhormat, ya pasti banyak yang menghormati. Coba jadi rakyat?
“Saya ambil koran olahraga saja, Mas. Lagi mumet baca berita politik yang isinya kayak buntelan kentut,” Zulvy mengambil salah satu koran olahraga dari tas loper koran itu.
“Iya. Saya sekarang jadi seneng baca berita selebriti. Mereka sih kelihatan gak pernah pusing. Sekalian biar segeran dikit lihat yang cantik-cantik,” jawab Sugeng sambil ngekek ketawa.