ASMAUL HUSNA
"Eh, isi dunk...!"
"Cape Nech...jalan teyus!"

HARUS NGISI LOH...!
|
|
|
 |
|
Friday, October 17, 2008
Ketika Keteladanan Itu Tiada
"Abah, kenapa ya sekarang bangsa ini kelihatannya carut marut?," tanya istriku malam itu. "Kok rasanya pemimpin kita banyak ga diturut sama rakyatnya, ya?", lanjutnya lagi.
Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Keningku sedikit berkerut. Namun sejurus kemudian aku menjawab.
"Mi, mungkin pemimpin kita gagal memberikan teladan kepada rakyatnya. Apa yang dikatakannya tidak sinkron dengan apa yang diperbuatnya. Yaa...seperti bilang berpihak kepada rakyat, tapi kelakuan jauh dari mementingkan rakyat. Makanya rakyat emoh diberi janji-janji surga lagi, " aku coba menjelaskan.
Obrolan tersebut mengantarkanku pada buku yang sedang kubaca beberapa hari ini. Judul buku itu 25 Kesalahan Dalam Mendidik Anak karya Rasyid Dimas yang diterjemahkan oleh Ust. Tate Komarudin.
Dalam buku tersebut disebutkan bahwa keluarga menjadi tempat belajar pertama anak. Apa yang dicontohkan oleh orangtua akan dominan dalam perkembangan perilaku sang anak.
Bagaimana mungkin mengajarkan anak nilai kejujuran tatkala orang tuanya sendiri memberikan contoh yang bertolak belakang. Sering kita dengar orangtua menasihati anaknya untuk tidak berbohong. Namun pada saat yang sama dia menyuruh mengatakan ayah tidak di rumah pada saat ada tamu datang.
Begitupun dengan harapan kita untuk memiliki anak yang sholeh/sholehah. Orangtuanya terlebih dahulu untuk belajar sholeh/sholehah. Sama halnya berharap anak menjadi hafidz Quran, maka orang tuanya pun harus lekat dengan Al Quran itu sendiri.
Sungguh sebejat apapun orang tua dalam hati kecilnya berharap anaknya lebih baik darinya.
"Hmm...gimana muroja'ahnya, sudah belum hari ini?" aku mengingatkan istriku.
"Alhamdulillah...terus dicicil. Kan kata Abah kita tidak hanya butuh semangat yang menggebu, tapi juga semangat yang kontinyu," jawabnya sambil menuang teh hangat ke gelas.
"Alhamdulillah semoga kita istiqomah dan Allah menjadikan anak keturunan kita orang-orang yang mencintai Alquran," ujarku.
"Amin. Bantu umi dan cha dengan keteladanan yang istiqomah," pintanya.
"InsyaAllah...ketika kita menikah maka saling menguatkan satu sama lain menjadi kuncinya," imbuhku.
Redup malam membawa kami ke peraduan. Senyap menyongsong esok dengan penuh warna.
Sadang-Jakarta
10.10.08
Posted at 05:59 pm by hijrah1307
Wednesday, October 15, 2008
Berjalan di bawah purnama
terang benderang
langkah kaki di bawah semburat cahaya
selaju angan menembus batas
melanglang tingginya alam pikiran
purnama telah datang kembali
menyapa malam di terpa angin lembut
tenang dan syahdu
begitulah titah dalam takdirNya
menunggu kembali purnama datang
harap selalu kebaikan menyambangi
sadang jakarta
Posted at 05:58 pm by hijrah1307
Tuesday, October 14, 2008
Harapan
tidak akan pupus
dalam terjangan badai
kokoh terpancang
dalam kerasnya karang tekad
tidak sekedar mimpi
yang bergantung di awan hayalan
tapi ini nyata
sebuah keniscayaan
karena semuanya mungkin
karena semua dapat terengkuh
karena selalu ada kesempatan
untuk mewujudkan keinginan
sadang jakarta
Posted at 05:57 pm by hijrah1307
Monday, October 13, 2008
Istriku
Istriku...
Rona wajahmu merona merah tatkala tersipu
Di antara balutan kerudung ungu menghias wajah manismu
Seulas senyum tersungging
Di antara bibir kemerahan
Istriku...
Syukurku pada Rabb pencipta alam semesta
Menghadirkan engkau dalam hidupku
Menemani arungi bahtera kehidupan
Menunaikan titah risalah melalui nabiMu
Istriku...
Allran sungai kehidupan masih terurai panjang
Masih akan ada jeram ujian yang menghampiri
Tetaplah menjadi tegar
Bak batu karang kuat menantang
Istriku...
Temani aku dalam keramaian dan kesendiirian
Jadilah pelita penerang dalam keremangan dan kegelapan
Agar semuanya menjadi indah dan penuh warna
Karena engkau anugrah terindah dalam hidupku
Jakarta - Sadang
09.10.08
Posted at 05:54 pm by hijrah1307
Friday, October 10, 2008
Ketika Maut Menjelang
"Allahu akbar...Allahu akbar..." terdengar dering telepon genggamku yang memakai lagu Selamat Hari Lebaran yang dinyanyikan grup band UNGU (maklum masih dalam nuansa lebaran). Seketika tanganku sigap merogoh ke saku dan mengeluarkan handphone Nokia 9500 yang sudah lusuh.
Ups, ternyata adik iparku menelepon. "A' tadi telpon mpit susah. Aa lagi di jalan ya? Mau ngasih tauk kalo Pak Memed sekarang sedang sakaratul maut. Kasih tauk Mpit ya, ke POJ nda?" tuturnya terbata-bata.
Sejenak aku terperangah. Walaupun aku sudah bisa menerka-nerka kalau usia tetangga mertuaku itu tidak lama lagi karena sakitnya yang sudah parah, tetap saja rasa kaget itu menyeruak. Apalagi beberapa hari terakhir ini, setiap aku dan keluargaku silaturahim ke rumah mertua yang hanya berjarak 10 menitan, tampak rumah yang persis behadap-hadapan itu selalu ramai dikunjungi kerabatnya.
Sebenarnya hal ini juga pernah terjadi pada ibuku. Sakit yang menderanya membuatnya tidak berdaya. Masih hangat dalam ingatanku, lima hari setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, ibuku meninggal dunia di tanah kelahirannya. Begitu pun dengan ayahku, dua tahun sebelum ibuku Ia berpulang. (Robbighfirli waliwalidaya warhamhuma kama robbayani soghiro).
Banyak cara makhluk menghadap Robbnya. Sikap yang berbeda pula ditunjukkan dalam menghadapinya. Ada segolongan manusia yang merindukan segera bertemu dengan Tuhannya, namun banyak juga yang setengah mati takut dan menghindarinya.
Menghadapi sakaratul maut Ibarat siswa yang akan menghadapi ujian. Siswa yang cerdas tentu mempersiapkan jauh-jauh hari, sehingga pada prakteknya dia menjalani ujian dengan tenang. Berbeda dengan siswa yang malas, dia baru belajar menjelang hari H, atau malahan tidak sama sekali. Apa yang terjadi? keduanya menghadapi ujian dengan perasaan yang berbeda. Tentunya dengan hasil akhir yang berbeda pula.
Rasulullah pun pernah mengingatkan sahabatnya akan sebuah penyakit yang sering menghinggapi manusia. Penyakit itu bernama Wahn. Kalau dalam teks bahasa nabi yang disebut wahn adalah hubbud dunya wakaroiyatul maut, terlalu mencintai dunia dan takut mati.
Ya, sangat masuk akal. Ketika kita menyukai sesuatu biasanya kita cenderung takut akan kehilangannya. Agama mengajarkan unsur keseimbangan (tawazun), raihlah dunia maupun akhirat. Makanya orang-orang dahulu (ga tauk nih orang sekarang....) begitu mendawamkan doa sapu jagat. Robbana atina fiddunya hasanah, wafilakhiroti hasanah, waqina adzab bannar. inti doa itu meminta kebaikan di dunia dan akherat dan diselamatkan dari azab neraka.
Ya....ibarat kereta sapu jagat yang biasa dipakai mudik lebaran yang mengangkut banyak mudikers (walaupun duduk lesehan), doa ini juga pakai sistem borongan (upss...kayak tukang bangunan saja ada istilah borongan sama harian). Kenyataannya doa itu menjadi senjatanya orang orang yang beriman.
ini. Semenjak lebaran menjelang, rasanya berita duka cita kerap menghampiri ponselku. Beberapa karyawan di tempatku bekerja keluarganya meninggal, entah itu anaknya, mertua atau istri. Tidak sengaja juga aku lihat infotainment di TV yang dipasang di bis, saat itu ditayangkan artis Rita Sugiarto yang kehilangan anaknya yang baru berusia 23 tahun. Hmm...ditambah lagi korban berjatuhan menimpa mudikers akibat kecelakaan. Ya...kabar pagi ini juga semakin menambah deretan panjang berita duka cita di ponselku.
"Uki...uki....cawang...." teriak kernet bis mengingatkan penumpang. Alhamdulillah sampai juga di Cawang dengan selamat. Tinggal melanjutkan perjalanan menuju Pancoran.
Sadang-Jakarta 09.10.08
Posted at 10:47 am by hijrah1307
Wednesday, January 02, 2008
Hari Baru
Kemarin telah berlalu
Hari baru telah tiba
Onggokan asa terserak begitu saja
Tak ada wujud dan penampakan
Biarlah jadi cerita tahun lalu
Tiada salah menenun kembali
Asa terserak menjadi benang nyata
Seribu guna berjuta makna
Kemarin telah berlalu
Hari baru telah tiba
Jaidi 14, Poltangan, Pasar Minggu
Posted at 08:14 am by hijrah1307
Achieve Dreams
Dar…dor….dar…..!!!
Ramai dan berisik. Zulvy yang tengkurap di atas kasur berusaha menutup kuping. Namun, tetap saja dentuman petasan dan kembang api itu terdengar. Bak suara rudal dalam perang teluk. Untunglah, Sya masih tergolek dengan wajah manisnya tanpa merasa terganggu dengan suara 'kekacauan' malam tahun baru. Gadis kecil itu terlelap bersama bunga tidurnya. Sementara Umminya juga telah tergolek.
Malam tahun baru 2008 terasa sedikit berbeda dari sebelumnya. Di tempat yang sama, dulu sepi tanpa perayaan. Entah kenapa tahun ini, suara musik dangdut hingar bingar dari warung setengah jadi yang ada persis di depan rumah. Suaranya tak kenal kompromi dengan bayi-bayi tetangga yang tengah terlelap. Begitu pun, suara riuh rendah keluarga yang menyengajakan bakar sate demi menyambut tahun baru. Sayup terdengar celetukan anak tetangga, "Di makannya ntar aja pas teng jam 12 malam," ujarnya. Zulvy yang sedang berada di dapur tersenyum simpul. Hatinya bergumam, "Harreee genehhh," setengah geleng-geleng kepala.
Keluarga Zulvy tidak memiliki acara khusus menyambut malam tahun baru 2008. Zulvy malah menghadiri rapat untuk membahas program Pos KK dan Taman Bacaan di Korwil. Begitu pun juga keesokan harinya, acara diisi bercengkrama dengan keluarga.
Tahun baru 2008 segera berlalu. Hari menjadi seperti biasa lagi. Yang menjadi tidak biasa adalah semangat yang menyertainya. Bukan perayaannya yang membuat kesan. Momentum yang membuat tidak menjadi biasa lagi, penuh makna. Karena setiap pergantian detik memiliki makna tersendiri. Achieve dreams, tema tahun 2008.
Posted at 08:10 am by hijrah1307
|
|
|